by

Soal Kasus Tanah SMAN 2 dan Lapangan Gembira Rantepao, Ini Kata Pither Singkali

JAKARTA, AIRTERKINI.COM – Diketahui, Pengadilan Negeri Makale yang menyidangkan kasus tanah sengketa SMA Negeri 2 dan Lapangan Gembira Rantepao, Toraja Utara, telah memenangkan pihak keluarga Haji Ali tanpa bukti-bukti autentik. 

Hal ini tertuang dalam Putusan Pengadilan Makale  No.2/PDT.G/2017/PN.Mak. tanggal 26 Oktober 2017. Bukti-bukti kepemilikan yang diajukan dalam persidangan lalu hanya berupa fotokopi dan kesaksian yang didengar dari orang lain alias Testimonium De Auditu.

Anehnya, putusan peradilan yang dinilai sesat itu justru diperkuat Pengadilan Tinggi Makassar dengan Putusan Banding No.190/PDT/2018/PT MKS. Tgl 16 Juli 2018. Keputusan hukum dua lembaga peradilan tersebut, membuat berang warga Toraja termasuk Para Alumni SMAN 2 Rantepao. 

Warga Toraja menilai Pengadilan Negeri Makale dan Pengadilan Tinggi Makassar telah melakukan peradian sesat, karena memutuskan perkara hanya berdasarkan bukti fotokopi dan kesaksian de auditu (saksi yang hanya mendengar dari orang lain). 

Ini lebih besar daripada APBD Kabupaten Toraja Utara.

Upaya Kasasi Pemda dan Masyarakat Toraja Utara ke MA pun kandas, karena  MA menguatkan putusan PN Makale dan PT Makassar yang sesat itu. MA lagi-lagi memenangkan penggugat melalui Putusan Kasasi No.718 K/Pdt/2019 tgl 12 Juni 2019.

“Ini sangat berbahaya dan melecehkan rasa keadilan masyarakat Toraja karena seharusnya pengadilan menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Ini praktik peradilan sesat, karena itu masyarakat Toraja melakukan perlawanan keras,” tegas Ketua GERTAK Pither Singkali SH, MH, yang juga mantan Aktivis Gerakan Pemuda dan Mahasiswa Toraja (Geppmator), di Jakarta, Kamis (26/3). (red)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini