by

Indonesia Bakal Gunakan Alat Rapid Test COVID-19 Buatan Dalam Negeri

JAKARTA, AIRTERKINI.COM – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, dan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, menyetujui pemakaian Alat Rapid Test COVID-19 buatan Dalam Negeri dari WNI bernama Santo Purnama. 

Terawan menyebut, pihaknya berkoordinasi dengan BKPM perihal pemakaian alat tes Sensing Self yang berbasis serologi di Indonesia, dan diproses. 

“Saya sudah berkoordinasi dengan Kepala BKPM. Sudah ada solusinya terkait ini,” ujar Terawan di Jakarta, baru-baru ini.  

Saat dikonfirmasi, Kepala BKPM, Bahlil, membenarkan hal tersebut. Ia menyebut rencana pemakaian alat tes Sensing Self di Indonesia sedang dalam proses.  

“BKPM menfasilitasi, segera. Perizinan terkait penanganan COVID-19 dipercepat semuanya. Jangan khawatir,” tutur Bahlil, saat dihubungi.  

Alat tes Sensing Self digunakan untuk menguji seseorang positif terinfeksi virus corona (COVID-19) atau tidak. 

Santo Purnomo berhasil mengembangkan alat tersebut melalui perusahaan teknologi bio sains miliknya, yakni Sensing Self yang berbasis di Singapura. Santo sendiri saat ini bertempat tinggal di San Francisco, California, Amerika Serikat. 

Alat test ciptaan Santo ini memungkinkan setiap orang untuk melakukan pengetesan di rumah masing-masing, dengan tingkat akurasi diklaim mencapai 92 persen. Satu unit alat test Sensing Self dibanderol Rp 160 ribu per unit. 

Santo mengklaim alat test Sensing Self bisa memberikan hasil dalam waktu 10 menit saja. Meski hasilnya keluar secara instan, tes ini masih berbasis serologi, yakni pengidentifikasian virus berdasarkan antibodi yang terbentuk dalam tubuh setelah terinfeksi virus. 

Pada orang yang terinfeksi virus corona kurang dari seminggu, respons imun tubuh belum terbentuk.   

Untuk menyiasatinya, rapid test bakal kembali dilakukan 6 atau 7 hari kemudian setelah tes pertama dilakukan. Selain itu, perlu juga konfirmasi ulang dengan tes PCR (polumerase chain reaction), yang hasilnya lebih akurat karena menggunakan spesimen swab tenggorokan.  

Menurut Santo, keunggulan alat test ciptaannya berada pada enzim yang diletakkan di alat tersebut. Enzim adalah biomolekul berupa protein yang berfungsi sebagai katalis atau senyawa yang mempercepat proses reaksi dalam suatu proses kimia organik. Dalam tes COVID-19, enzim berperan dalam menentukan hasil test yang dilakukan seseorang.  

“Teknologi yang kita miliki bukan terletak pada kit atau kertasnya, tapi ada di enzimnya. Enzim itu kalau tidak diperhatikan, misalnya waktu ditaruh tidak dijaga suhunya atau segala macam, enzim itu bisa rusak,” ujar Santo saat dihubungi awak media ini, belum lama ini.  

Oleh sebab itu, katanya, banyak alat test COVID-19 buatan perusahaan lain yang justru memiliki tingkat keakuratan lebih rendah. Ini tak lain karena enzim yang mereka buat tidak memperhatikan atau kemungkinan enzimnya rusak saat proses pembuatan.  

Sejauh ini, sudah ada tiga wilayah yang memberikan izin edar alat test Sensing Self, di antaranya adalah Amerika Serikat, India, dan beberapa negara di Eropa. 

Kini, Indonesia juga menjadi salah satu negara yang kemungkinan besar bakal menggunakan alat tes serologi tersebut. 

Sensing Self juga diketahui memproduksi alat tes COVID-19 berbasis PCR. Alat tes berbasis PCR ini mengambil sampel cairan pernapasan pasien untuk mendeteksi virus corona SARS-CoV-2. Namun, harganya lebih mahal dibandingkan alat yang berbasis antibodi, yakni sekitar Rp 1,2 juta. Hasilnya dapat keluar dalam 1 jam. (*/red)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini