by

Mahasiswa UKI Toraja Menjerit Bayar Uang Kuliah, Ini Kata Alumninya Berang

TANA TORAJA, AIRTERKINI.COM – Tak dapat dipungkiri, efek pandemi Covid-19 atau virus Corona telah membuat seluruh sendi kehidupan mengalami degradasi. Pendek kata, keberadaan wabah Corona itu berdampak sistemik. Perekonomian negara dan masyarakat porak-poranda dan terpuruk. Kondisi ini mempengaruhi kemampuan dan daya beli masyarakat jadi rendah.

Di dunia pendidikan pun terjadi. Para orang tua murid, pelajar, dan mahasiswa(i) juga sangat merasakan kondisi ekonomi terpuruk ini. Apalagi untuk membayar uang sekolah atau uang kuliah putra-putri mereka. Seperti dialami sebagian besar mahasiswa(i) UKI Toraja, saat ini. Dari pantauan awak media ini, para mahasiswa(i) itu menjerit setelah dipaksakan membayar pelunasan uang semester hingga akhir Mei 2020.

Diantara yang mengalami itu, seorang mahasiswi aktif Fakultas Ekonomi Manajemen berinisial RM. Mahasiswi angkatan 2017 ini, mengaku tidak mampu membayar uang semester untuk bulan Mei. “Jujur kami tidak mampu selama Covid-19. Untuk beli pulsa data saja buat kuliah online kadang ada, kadang susah. Makan di kos saja pun susah,” tutur sang mahasiswi tersebut.

Melihat kondisi ini, Gista Sara Siang SE, seorang alumni UKI Toraja, angkat bicara. Gista mengecam keras kebijakan Rektor UKI Toraja yang melakukan pemaksaan terhadap para mahasiswa(i) untuk membayar uang semester. Menurut dia, di tengah wabah Covid-19, Rektor UKI Toraja seharusnya mengeluarkan kebijakan penundaan atau relaksasi pembayaran uang semester. 

“Saya peringatkan kepada Bapak Rektor UKI Toraja yang baru Dr. Oktovianus Pasoloran, SE, M.Si, AK, C.A  agar mempertimbangkan situasi dan kondisi akibat wabah Corona,” tegas Gista, saat Coffee Morning bersama Alumni dan Para Petinggi UKI Toraja di Kantor Redaksi Airterkini, di Se’ pon, Makale, Rabu (6/5).

Diketahui, sesuai data 2019, jumlah keseluruhan mahasiswa(i) UKI Toraja berkisar 6000 orang. Untuk setiap mahasiswa UKI Toraja diwajibkan membayar uang senat per semester Rp 50.000. Sedang untuk setiap alumni dibebankan Rp120.000. “Kalau dikalikan misalnya 6000 x 50.000 jumlahnya 3 miliar/semester. Sedangkan untuk alumni atau wisudawan sekitar 400 orang dikali Rp 120.000 sama dengan Rp 48.000.000/semester,” urai Gista.

Masalahnya, uang senat tidak jelas peruntukannya. “Sekarang organisasi senat  kemahasiswaan ditiadakan. Begitupun Badan Eksekutif Mahasiswa ditiadakan. Jadi untuk apa uang senat itu dikumpulkan dari mahasiswa,” sorotnya. Gista berpendapat, keorganisasian itu sangat penting bagi mahasiswa. Karena dengan itu, sebuah perguruan tinggi dapat mencetak mahasiswa kritis, kreatif dan berjiwa kepemimpinan. “Sekarang alumni Toraja sudah banyak yang jadi kepala lembang, manajer perusahaan, bahkan ada yang beranikan diri jadi calon legislatif,” bebernya. (sep-gis-albert)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini