by

Kalem Paku Ungkap, Penyaluran Bantuan Sembako Diduga Menyimpang

TANA TORAJA, AIRTERKINI.COM – Program Beras Sejahtera (Rastra) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang merupakan program pemerintah pusat untuk masyarakat, menyisakan masalah. Semisal, telur. Sebagian yang dibagikan ke Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kelurahan Batupapan, Makale, Rabu (20/5), dalam keadaan rusak. Juga bantuan pangan yang lain, seperti beras 10 kg dan ikan kaleng.

Menurut seorang warga penerima manfaat, Yuliana, Pendamping Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKSK) Kabupaten seharusnya mengganti telur yang rusak itu. “Kasihan kami ini sudah miskin malah tambah dibodoh-bodohi. Saya harapkan pendamping segera mengganti karena tidak sesuai dengan harapan kami,” ungkap Yuliana.

Awak media ini menerima laporan hampir seluruh lembang. Warga lembang mengeluhkan pelayanan yang diberikan Pendamping BPNT. Hal lain, tidak adanya kesesuaian soal harga dan jumlah yang seharusnya diterima masyarakat penerima manfaat.

Salah satu lembang yang mengeluhkan hal ini adalah Lembang Paku di Kecamatan Masanda. Seperti dilontarkan Kepala Lembangnya sendiri, Markus Lintin Paretta, kepada Step dari Airterkini.com, baru-baru ini. 

“Yang jadi persoalan di sini setiap bulan 200 ribu masuk rekening, ternyata yang didapatkan masyarakat selama ini hanya 10 kg beras, 2 ikan kaleng dan 1 rak telur. Kalau kita kalkulasi paling tinggi 170 ribu. Inilah yang membuat masyarakat ribut karena contohnya sekarang kita mau melakukan BLT 600 ribu per KK nah yg menjadi persoalan terjadi kesenjangan,” ujar ML Paretta.

Bagi Paretta, hal ini dianggap serius dan bisa jadi masalah besar. “Serius karena menyangkut hak org lain. Sebab seakan-akan kami kepala lembang sudah terindikasi bahwa tdk peduli. Kalau begini saya tidak mau terima lagi,” tegasnya.

Alasannya realistis. Ia menyebut harga barang sembako yang diberikan relatif mahal. Seperti beras seharga 10 ribu per kilo, telur 50 ribu per rak padahal harga untuk telur 30 ribu lebih per rak. Ikan kaleng cuma 2 kaleng, lalu mau dihabisi 200 ribu uangnya rakyat kan tidak mungkin,” beber Paretta.

Paretta mengusulkan, kedepan program yang sama ini diserahkan saja ke masyarakat. “Kasih saja masyarakat digesek dalam bentuk uang jangan lagi dalam bentuk sembako. Dulu masyarakat terima utuh,” timpalnya.

Sejauh ini, kata Paretta, Pemda setempat menunjuk salah satu agen pengada sembako. Pengadanya yang beralamat di Rembon itu diduga bernama Fatmawati. Konon, Fatmawati juga Koordinator TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kabupaten). Ia diduga memanfaatkan salah satu grosir atau distributor untuk melayani beberapa lembang. (sep)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments

  1. Kalau bantuan langsung tunai ( BLT) ya harus berupa uang pa,, bukan diganti barangx apalagi tdk sesuai dengan harga barang dan jumlah barang. Dan harus juga ada kata kesepakatan antara Lembang dengan masyarakat lalu dilanjutkan ke pihak departemen yg bersangkutan, nah ini bisa temuan apalagi yg diberikan seperti telur busuk sangat menyedihkan

Berita Terkini