by

Pemilik Rante Kaduaja, Tongkonan Peduruan, Protes Pertanahan Tana Toraja

Kedatangan mereka untuk memprotes kebijakan pihak Pertahanan yang  akan menerbitkan sertifikat tanah penghuni Rante Kaduaja. Sebelumnya, penghuni tanah Rante Kaduaja Tongkonan Peduruan yang terdiri dari 13 rumah, mengajukan permohonan penerbitan sertifikat tanah ke Pertanahan Tana Toraja.

Namun pihak Perwakilan Pemilik Rante Kaduaja kemudian meminta usulan permohonan sertifikat itu ditunda atau tidak diterbitkan. Hal ini didasari pertimbangan soal tatanan adat di Tana Toraja.

“Ada 13 pemilik rumah di Rante Kaduaja yang nekat menerbitkan sertifikat tanah. Saya sebagai perwakilan, berharap kepada pihak pertanahan agar menundanya atau tidak menerbitkan sebelum penyelesaian mekanisme adat ditempuh,” kata Bastian, kepada Airterkini.com, di Kantor Pertanahan Tana Toraja.

Dosen Fakultas Teknik Sipil UKI Toraja ini mengkhawatirkan jika sertifikat tanah penghuni Rante Kaduaja tersebut diterbitkan, akan melanggar tatanan adat Tana Toraja. Bahkan dikhawatirkan tanah Rante Kaduaja nantinya bisa diperjual-belikan.

Bastian juga mengakui bahwa pihak keluarga pemilik Rante Kaduaja sama sekali tidak mempersoalkan keberadaan 13 rumah tersebut. 

“Di sana ada gereja, rumah penduduk. Sebagai manusia kami tak tega mengusirnya karena kami pahami kekerabatan nenek moyang kita dulu dengan nenek moyang mereka, tentu baik dan saling membantu,” jelasnya.

Dikonfirmasi, pihak pertanahan mengakui jika kepengurusan sertifikat dimaksud oleh keluarga pemilik Rante Kaduaja tersebut tidak serta merta dikeluarkan. “Itulah tujuan kami memanggil kedua belah pihak ke sini. Kami pertahanan sangat hati-hati dalam mengeluarkan sertifikat,” terang Kepala Sesi Penanganan dan Pengendalian Pertanahan Tana Toraja, A. Hamzah. (gis)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini