by

Sri Mulyani Ingatkan, Indonesia Bisa Terjebak Jadi Negara Berpendapatan Menengah

JAKARTA, AIRTERKINI.COM – Menteri Keuangan Sri Mulyani kembali mengingatkan soal jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap. Penyebabnya adalah masalah fundamental yang masih terus membayangi ekonomi domestik.

Menurut Sri Mulyani, banyak negara berpenghasilan menengah sejak 1999 dan belum bisa naik kelas menjadi negara berpenghasilan tinggi atau high income. Contohnya Brasil, dari lower middle income jadi upper middle income butuh waktu 25 tahun. Hingga hari ini, Brasil belum berhasil naik level ke high income. Begitu juga Meksiko yang beranjak dari lower middle income ke upper middle butuh waktu 17 sampai 28 tahun dan sampai saat ini belum mencapai high income. 

“Indonesia lower middle income sudah 23 tahun dan upper middle income 1 tahun ini. Jadi pertanyaannya, apakah Indonesia akan mengikuti Brasil, Meksiko, Malaysia, selama 20 tahun ikut upper middle dan tidak bisa high income? Ini tergantung bagaimana mengatasi middle income trap,” kata Sri Mulyani pada Rapat bersama Badan Anggaran DPR, Kamis (18/6).

Sri Mulyani memberi solusi, untuk menghindari middle income trap, Indonesia harus mulai menyelesaikan masalah produktivitas daya saing dan kualitas sumber daya manusia (SDM). 

Indonesia harus fokus selainĀ  pada pembangunan SDM, juga infrastruktur, birokrasi, regulasi dan transformasi ekonomi. “Ini bagaimana membuat Indonesia jadi kompetitif dan produktif,” ujarnya.

Baca Juga : antara-sisi-positif-pernyataan-andre-rosiade-dan-kotak-pandora-bumn

Tonton Video : Penyaluran BLT Tahap 2 Lembang Salu Tapokko https://youtu.be/BaYQZ7_KLmI

Poin produktivitas, kata Menkeu ini, menjadi fokus utama yang harus diselesaikan. Sebab, total factor productivity Indonesia sangat rendah dan tidak meningkat signifikan. Hal ini diakibatkan kualitas SDM dan pasar tenaga kerja masih didominasi informal. 

Untuk meningkatkan produktivitas, kata dia, pemerintah tidak hanya fokus memperbaiki sisi pendidikan dan skill SDM, namun juga meningkatkan investasi. 

“Makanya pemerintah fokus pada iklim investasi, terutama omnibus law untuk menciptakan kesempatan kerja lebih baik. Tanpa itu masyarakat akan terperangkap pada low earning income,” jelas Sri Mulyani.

Di sisi lain, modal bonus demografi berupa masyarakat usia muda akan menguntungkan Indonesia. Sayangnya, bonus ini punya batas kadaluarsa alias tidak akan berlangsung lama.  

“Indonesia punya waktu kurang dari 10 tahun. Itu masalah fundamental jangka menengah panjang yang tetap harus jadi fokus kita dalam desain APBN,” tandasnya. (*/red)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini