by

Belum Lama Dibangun, Plafon Kantor Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata Tana Toraja Mulai Rusak

TANA TORAJA, AIRTERKINI.COM – Tak dapat dipungkiri, rendahnya integritas dan pengawasan dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan, selalu berakibat mutu pekerjaan proyek itu juga sangat rendah. Belum lagi, jika dari awal sebelum dimulai pekerjaan, yakni dari proses tender, sudah ada ‘kongkalikong’ antara pemberi pekerjaan dan penyedia atau rekanan peserta tender. 

Dari kolusi yang terjadi dalam tender, sudah pasti berakibat pada mutu proyek bersangkutan. Betapa tidak, bukan mustahil terjadi tawar-menawar untuk memenangkan tender. Modusnya macam-macam, dengan membuang persentase harga penawaran semaksimal mungkin, atau bisa juga ada grativikasi antara rekanan peserta tender dengan pemberi pekerjaan, mulai dari panitia atau pokja ULP serta lainnya yang berpengaruh.

Tampak Plafon yang terbuat dari Gypsum dalam keadaan rusak

Ditambah lagi, pada tingkat pelaksanaan proyek di lapangan dengan rendahnya pengawasan baik dari konsultan pengawas, legislator, dan pengawasan masyarakat, serta tim PHO (Provisional Hand Over) sebelum dana termen proyek cair. Setidaknya, dari ilustrasi tersebut, dapat dibayangkan seperti apa yang terjadi dengan kondisi bangunan gedung Kantor Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata Tana Toraja, saat ini. 

Dari pantauan Airterkini, tampak jelas pemandangan yang kurang sedap atas gedung yang bercorak arsitektur bangunan hotel ini. Kondisi plafon bangunan tersebut tampak mulai bolong alias bocor. Padahal gedung yang bernilai miliaran ini belum lama dibangun. Pembangunannya pun, menurut Petrus Turu’allo, PPKnya, dalam tiga tahap.

BACA JUGA : Satu Pasien Positif Covid 19 Dinyatakan Meninggal Dunia

TONTON VIDEO : Penyerahan BLT DD, Lembang Palesan Tana Toraja

“Untuk kantor pariwisata ada 3 tahap, mulai dari tahun 2017 sd 2019. Untuk pekerjaan plafon n dinding luar dikerjakan di tahun 2018. Plafonnya terbuat dari gypsum,” ujar Petrus, via WhatsApp (WA), Selasa (23/6). Menyoal plafon yang rusak atau bocor, Petrus mengatakan, penyebabnya adalah adanya rembesan air dari luar.

Kadis Kebudayaan Tana Toraja, Bonifacius Paundanan

Staf Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Tator ini, meminta awak media ini untuk datang ke kantor agar diberi penjelasan secara detail. “Datang mi sj ke kantor pak, biar kita jelaskan. Untuk infomasi lebih jelasx, tolong ke kantor mi pak, krn untuk pemberian data kami ada prosedur jg pak. Mohon dipahami. Mksh pak,” tuturnya, masih via WA.

Pihak Dinas Kebudayaan setempat sebagai user gedung tersebut, ketika dihubungi enggan berkomentar alias no comment. “Saya tidak ingin berpolemik. Soal bangunan itu kan teknis, bukan kami. Itu Dinas PRKP, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman. Kalau saya selalu bekerja sesuai koridor,” ungkap Bonifacius Paundanan, Kadis Kebudayaan Tana Toraja.

Saat ditanya tanggapannya atas kondisi plafon bangunan kantornya tersebut, Bonifacius hanya menjawab diplomatis dan singkat. “Kalau soal tanggapan saya, saya kembalikan bagaimana kamu melihat itu. Artinya bagaimana tanggapan kamu begitulah,” bebernya. Untuk diketahui, total dana yang terserap dari tiga tahap pembangunan gedung tersebut ditaksir mencapai kurang lebih 7 miliar. (albert)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini