by

Pengamat Politik Perempuan dan Anak Ini, Harap Suasana Kondusif Pilkada Di Toraja

TORAJA UTARA, AIRTERKINI.COM – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) baik di provinsi maupun kabupaten/kota, sedikit berbeda dibanding selama ini karena efek pandemi COVID-19. Kondisi ini pertama kali terjadi pasca 75 tahun Indonesia merdeka. Khusus di wilayah pegunungan Toraja, ada dua kabupaten yakni Tana Toraja dan pemekarannya, Toraja Utara, akan menggelar pesta demokrasi tersebut. 

Tentu saja, pandemi tersebut efeknya sangat dirasakan warga masyarakat pemilih baik dari sisi ekonomi, pendidikan, sosial maupun budaya. Hal tersebut dilontarkan Pengamat Politik Perempuan dan Anak di Indonesia, DR  Esther Ryan Megah Mandalawati, lewat rilisnya yang diterima Airterkini.com, via WhatsApp (WA), Rabu, 19 Agustus 2020.

Esther mengatakan, para kandidat harus dapat memahami bagaimana melakukan kampanye di masa pandemi. Karena, kata dia, berdasarkan pengalamannya menjadi tim pemenangan di Pilpres serta sebagai konsultan politik dalam mendampingi kandidat, khusus untuk Tana Toraja dan Toraja Utara, harus digunakan cara lain dalam berkampanye.

Untuk itu, perempuan Toraja ini memberi 7 (tujuh) pokok pikiran atau pokir sambil menyampaikan 5 ( lima) sumbangsaran utama dalam rangka Pilkada Tana Toraja dan Toraja Utara. Ke-7 pokir diantaranya, membentuk peta politik pemenangan melalui korlap-korlap yang dibentuk karena strategi pemenangan di masa pandemi tidak dilakukan terbuka tapi grassroot. 

Berikut, menurut Esther, uang bukan segalanya. Di masa pandemi, masyarakat cenderung apatis siapapun calon yang dipilih karena mengalami tekanan di semua sektor kehidupan, sehingga perlu ada penguatan nilai kepercayaan masyarakat  terhadap pilkada tersebut karena masyarakat sibuk memikirkan bagaimana mereka menyelesaikan masalah yang dihadapi. 

Pemilih pemula tingkat mahasiswa dan pelajar, katanya, juga merupakan fasilitas tim yang sangat maksimal dan besar. Pergerakan mereka lebih cepat dengan jaringan luas. Orasi politik pemilih pemula lebih mudah dimengerti dan rasional. Rasionalitas ini juga memperkecil money politics-oriented di kalangan pemilih pemula.

Selanjutnya, melakukan evaluasi dengan menggunakan database populasi pemilih yang akurat untuk mengurangi penggelembungan suara, komperatif pemilih perempuan lebih besar kuotanya dibanding pemilih laki-laki sehingga kandidat harus memiliki visi dan misi yang jelas tentang peran perempuan.

“Hindari konflik internal sesama kandidat dan lakukan kampanye dalam suasana pandemi secara kekeluargaan. Menghindari konflik itu dengan mematuhi aturan pilkada yang telah ditetapkan,” beber Esther dalam rilisnya. Dia berharap, kandidat menang secara terhormat dan jika tidak berhasil tetap bersyukur serta tidak berhenti memikirkan hal-hal yang masih tertunda demi perkembangan Toraja. 

Esther menyarankan dengan menghimbau semua pihak agar menciptakan suasana kondusif. Berikut, gunakan sarana prasarana dengan benar, sampaikan orasi politik secara baik dan benar, jujur dan tak berlebihan. “Semua pihak menjadi hal penting dalam proses pemenangan serta ikuti semua aturan penyelenggaraan pilkada,” pungkasnya. (red)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini