by

Petugas Medis Covid-19 Keluhkan Insentif Berbulan-bulan Tak Dibayarkan

TANA TORAJA, AIRTERKINI.COM – Pasca sejumlah guru honorer mengeluh karena gaji mereka tertunda tak dibayarkan, kini giliran petugas medis Tana Toraja yang menangani pasien Covid-19 mengalami nasib yang sama. 

Petugas kesehatan tersebut mengeluh lantaran pembayaran insentifnya tak kunjung dibayar selama 5 (lima) bulan berturut-turut yakni, Mei hingga akhir September 2020.

Padahal, pemberian insentif bagi tenaga kesehatan merupakan salah satu komitmen pemerintah yang diumumkan Presiden Joko Widodo, 23 Maret silam.

Munculnya berbagai keluhan masyarakat menandakan Bupati Tana Toraja Nicodemus Biringkanae, ingkar janji sesuai slogan yang ia pernah lontarkan bahwa ‘jangan biarkan rakyakku sakit, bodoh dan lapar’.

“Selama kami bertugas, baru bulan April dibayarkan hanya Rp 2.000.000. Itupun  disuruh kembalikan sebagian dana itu lagi. Tidak jelas alasannya,” kata salah satu petugas kesehatan berinisial N di RSUD Lakipadada kepada Airterkini, di Makale, pekan lalu.

Akibat keterlambatan insentif tersebut,  beberapa dari petugas medis terpaksa mengutang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya di tengah pandemi Covid-19.

Dikonfirmasi, baru-baru ini, Kepala Dinas Kesehatan Tana Toraja, dr. Ria Minoltha Tanggo, mengakui keterlambatan pembayaran insentif petugas kesehatan itu. Ia menyebut, insensentif tersebut dibayarkan Jumat, 2 Oktober 2020, tapi 1 (satu) bulan, yakni untuk Mei saja.

Menurut Ria, keterlambatan pembayaran insentif tersebut akibat pengajuan data-data yang lengkap dan persyaratan yang sangat ketat untuk menjamin tidak salah bayar.

“Kalau laporan sudah masuk dan diverifikasi bisa langsung dilaporkan ke pusat. Dari pusat langsung dimasukkan ke rekening nakes,” jelas Ria di ruang kerjanya di kantor Dinkes Tator.

Sementara Verifikator RS Lakipadada, Yorim, menyatakan, petugas medis yang menangani pasien positif Covid-19 yang belum terbayarkan insentifnya sekitar 95 orang.

“Untuk bulan Mei laporannya sudah rampung dan dibayarkan hari ini, namun paramedis harus membuat rekening di Bank Pembangunan Daerah, tujuannya untuk mentransfer insentif mereka,” ungkap Yorim di kantor administrasi keuangan RS Lakipadada, Jumat (2/10).

Namun sikap dan respon berbeda ditunjukkan Staf Keuangan RSUD Lakipadada, Yetti. Ia lebih memilih bungkam saat dimintai keterangan. Tak lama kemudian, Yetti emosi tak terkontrol saat awak media hendak merekam dan mengambil gambar dirinya.

“Saya ini PNS, bukan honor, Saya tidak mau direkam dan difoto. Saya tidak mau kalau ditulis,” tuturnya. Setelah itu, Yetti berjalan sambil mengeluarkan kata kasar “kurang ajar”. Namun Yetti kemudian minta maaf kepada awak media setelah menyadari kesalahannya berlaku kasar. 

Mendapat informasi kejadian tersebut, beberapa jam kemudian Suami Yetti langsung berupaya menengahi miskomunikasi yang terjadi antara awak media dan istrinya. 

“Saya dihubungi istri saya dan menangis. Mewakili istri saya, saya minta maaf. Istri saya sudah merasa bersalah. Boleh kita foto bersama, saya mau kirimkan istriku supaya dia percaya kita sudah ketemu,” ucap suami Yetti di posko induk pemenangan Nico-Victor di Buli-Buli, Makale. (gis)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini