by

Kartu Tani Pupuk Bersubsidi Yang Diterbitkan Bank BRI, Mubasir

AIRTERKINI.COM – Jarang tersorot, kartu tani pupuk bersubsidi yang diterbitkan Bank BRI dinilai mubasir. Pasalnya, sejak diterbitkannya kartu itu, tidak berfungsi sejak tahun 2020.

Padahal, para petani yang mendapatkan kartu tersebut terisi saldo masing-masing Rp 50.000 sampai Rp. 100.000.

Hal ini terungkap setelah Airterkini.com melakukan investigasi sejak 15 – 17 Februari 2020.

Terungkapnya persoalan ini setelah banyaknya keluhan dari para petani soal pupuk bersubdisi. Mereka kecewa lantaran kartu tani yang dijanjikan pemerintah lewat Bank BRI, peruntukannya tidak dapat difungsikan.

Seorang petani inisal MT mengaku pernah membuka rekening/ kartu dengan saldo Rp 100.000. Namun tak dapat difungsikan.

“Kami dipanggil ke kelurahan. Dari penyuluh pertanian mengatakan, buka rekening untuk mendapatkan kartu tani pupuk bersubsidi. Kartu tani katanya digunakan untuk transaksi pupuk bersubsidi. Ya saat itu juga kami buka rekening pada Januari 2020, namun setelah itu, kartu saya bawa ke pengecer tapi tidak terbaca. Berapa kali digesek tetap tidak terbaca. Jadi, sejak itu belum pernah mendapatkan pupuk bersubsidi sampai sekarang ini. Menjadi pertanyaan, pupuk subsidi kami selama ini dikemanakan” kata inisial M kepada airterkini.com (16/02/2021).

Hal yang sama disampaikan oleh ketua kelompok Tani di Sangalla’ inisial P. ” Saya ini sudah berapa kali didatangi penyuluh pertanian. saya disuruh tanda tangan terus, tapi sampai sekarang ini belum pernah melihat bentuk pupuk bersubsidi seperti apa. Saya pernah ke pengecer tapi katanya sudah habis. Saya sudah capek” ungkap P.

B.S. Bontong bersama Kadis Pertanian Tana Toraja, Salvius Pasang.

B.S Bontong, secara terang-terangan didepan kepala dinas pertanian Tana Toraja, mengaku belum pernah mendapatkan pupuk bersubsidi meski dia adalah salah satu pemegang kartu pupuk bersubsidi.

“Selama ini belum pernah saya dapatkan. Mungkin tahun ini bisa difungsikan” terang B.S Bontong.

Dikonfirmasi, Pemilik kios Aneka Tani di Sangalla’ Utara, salah satu pengecer pupuk bersubsidi pada tahun 2020 membenarkan hal itu. “Sudah tidak jual pupuk bersubsidi lagi. Non subsidi saja. Sejak 2021 saya sudah berhenti. Pengurusannya sangat ribet. Pernah ada bapak dari Leatung datang marah-marah karena kartunya tidak bisa diproses. Isi saldonya katanya Rp 500.000. Digesek-digesek tetap tidak terbaca. Sampai -sampai saya datangkan orang BRI ke sini. Tapi tetap tidak terbaca” kata pemilik kios Aneka Tani (17/02/2021).

Dikonfirmasi, Kepala cabang BRI Rantepao, Gunariyadi memilih bungkam. Malah memberikan statemen yang jarang diungkapkan oleh para pimpinan atau pejabat seperti biasanya.

“Tidak sembarang ke kantor kami. Kami dilarang memberikan statement, kecuali advertorial. Konfirmasi ke sana, provinsi saja” kata Gunariyadi via handphone saat jurnalis airterkini.com menawarkan janjian Wawancara, (17/02/2021).

Selayaknya, sebagai kepala cabang sekelas Gunariyadi menjawab secukupnya, terkait kartu pupuk bersubsidi yang tidak dapat difungsikan.

Dengan Sikap Gunariyadi, bisa dinyatakan melanggar Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, yakni menghalang-halangi tugas jurnalis. Apalagi dalam hal ini jurnalis hanya dalam kapasitas mengkonfirmasi berita demi kepentingan masyarakat banyak kususnya para petani.

Uang para petani yang mengendap di Bank BRI itu selama 1 tahun tentu merugikan masyarakat Tana Toraja dan Toraja Toraja Utara karena keperuntukannya bukan untuk ditabung.

Di lain sisi tentu menguntungkan pihak bank BRI. Bayangkan uang para petani yang terkumpul itu mengendap selama 1 tahun. (gis)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini